Ketika hidup kehilangan makna maka yang terjadi adalah kita kehilangan jiwa, kehilangan kebahagiaan dan keriangan. Jiwa ini ada karena kebanggaan, ketika jiwa tak lagi bangga maka ia tak tahu eksistensinya, maka jiwa menjadi redup, hampa dan merana bahkan mati.
Jiwa membutuhkan kepastian dan sandaran akan mengapa ia harus ada dan untuk apa. Kepastian itu biasanya disandarkan pada pemimpin. Keberadaan pemimpin adalah sebuah alasan jiwa untuk berbangga, ketika pemimpin tidak pantas untuk dibanggakan maka jiwa pun menjadi merana.
Maka dari itu pemimpin bangsa adalah simbol jiwa bangsa tersebut. Seharusnya seorang pemimpin adalah seorang psikolog , seorang mentalis yang mampu membangun karakter pada bangsanya. Ketika pemimpin bangsa tersebut tak lagi bersuara pastilah bangsa itu akan bisu, dan jika pemimpin bangsa itu diam tak bergerak maka pastilah bangsa itu akan lumpuh. Dan jika pemimpin tersebut kehilangan visi maka disitulah kematian bangsa tersebut.

